KITA SEMUA BISA MENJADI PAHLAWAN

Diposting pada: 2013-11-08, oleh : smkn3boy, Kategori: Tanpa Kategori

KITA SEMUA BISA MENJADI PAHLAWAN

(dengan inspirasi Hari Pahlawan 10 November)

Oleh Heri Subowo, M.Pd.

 

Latar Belakang Sejarah

          Pada tanggal 1 Maret 1942 tentara Jepang mendarat di pulau Jawa, dan pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942. Sejak itu, Indonesia diduduki oleh Jepang. Dengan dijatuhkannya bom atom di Jepang (Hiroshima dan Nagasaki) dalam bulan Agustus 1945 oleh Amerika Serikat, maka pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah kalah tanpa syarat kepada Sekutu.

          Selama pendudukan Jepang, di tengah-tengah penderitaan rakyat yang disebabkan oleh pendudukan tentara Jepang dan perang, dikalangan banyak golongan lahir semangat anti-barat atau anti-kolonialisme, di samping perasaan anti-Jepang (terutama menjelang tahun 1945). Dalam rangka persiapan untuk menghadapi segala kemungkinan menghadapi Sekutu, pemerintah Jepang telah menggunakan berbagai cara dan akal untuk merangkul rakyat Indonesia untuk menghadapi Sekutu. Peta (Pembela Tanah Air) telah dibentuk dan Jepang juga menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Pemimpin-pemimpin Indonesia (antara lain Sukarno, Hatta, dll) menggunakan berbagai kesempatan untuk menyusun kekuatan, demi cita-cita untuk kemerdekaan bangsa.

         Dengan kekalahan Jepang menghadapi Sekutu, maka kemerdekaan bangsa Indonesia akhirnya diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945, yaitu ketika pasukan pendudukan Jepang masih belum dilucuti oleh Sekutu. Sejak itulah terjadi berbagai gerakan rakyat untuk melucuti senjata pasukan Jepang, sehingga terjadi pertempuran-pertempuran yang memakan korban dibanyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945 tentara Inggris mendarat di Jakarta dan pada tanggal 25 Oktober 1945 mendarat di Surabaya. Tentara Inggris didatangkan ke Indonesia atas keputusan dan atas nama Sekutu dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan yang ditahan Jepang, dan memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Tetapi, di samping itu tentara Inggris juga memiliki tujuan rahasia, yaitu untuk mengembalikan Indonesia kepada pemerintah Belanda sebagai jajahannya.

          Perkembangan sejak mendaratnya tentara Inggris diberbagai daerah di Indonesia menunjukkan bahwa kehadirannya (atas nama Sekutu) itu telah diboncengi oleh rencana pihak Belanda untuk menjajah kembali Indonesia. Tentara Inggris (Sekutu) yang datang ke Indonesia juga mengikutkan NICA (Netherlands Indies Civil Adminsitration). Kenyataan inilah yang meledakkan kemarahan rakyat Indonesia dimana-mana. Di Surabaya, dikibarkannya bendera Belanda Merah-Putih-Biru di Hotel Yamato telah melahirkan Insiden Tunjungan, yang menyulut berkobarnya bentrokan-bentrokan bersenjata antara pasukan Inggris dengan beraneka-ragam badan perjuangan yang dibentuk oleh rakyat. Singkatnya, bentrokan-bentrokan bersenjata dengan tentara Inggris di Surabaya, makin memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur, pada tanggal 30 Oktober 1945.

          Karena terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby itu, maka penggantinya (Mayor Jenderal Mansergh) mengeluarkan ultimatum yang merupakan penghinaan bagi para pejuang dan rakyat umumnya. Dalam ultimatum itu disebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya ditempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6 pagi tanggal 10 November 1945.

 

Serangan Besar 10 November

          Ultimatum tersebut ditolak oleh Indonesia. Sebab, Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri (walaupun baru saja diproklamasikan), dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai alat negara juga telah dibentuk. Di samping itu, banyak sekali organisasi-organisasi perjuangan telah dilahirkan oleh beraneka-ragam golongan dalam masyarakat, termasuk dikalangan pemuda, mahasiswa, dan pelajar. Badan-badan perjuangan itu telah muncul sebagai manifestasi tekad bersama untuk membela republik yang masih muda, untuk melucuti senjata pasukan Jepang, dan untuk menentang masuknya kembali kolonialisme Belanda (yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia).

          Pada tanggal 10 November  1945 pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran dan dahsyat sekali, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang. Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi-buta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk.

          Pihak Inggris menduga bahwa perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo 3 hari saja, dengan mengerahkan persenjataan modern yang lengkap, termasuk pesawat terbang, kapal perang, dan kendaraan lapis baja (tank) yang cukup banyak. Rupanya, TKR (yang kemudian menjadi TNI) dianggap enteng oleh Tentara Inggris, apalagi badan-badan perjuangan bersenjata (laskar-laskar dll) yang banyak dibentuk oleh rakyat. Tetapi, diluar dugaan Inggris, ternyata perlawanan itu bisa bertahan lama, berlangsung dari hari ke hari, dan dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada permulaannya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Ternyata, pertempuran besar-besaran ini memakan waktu sampai sebulan, sebelum seluruh kota jatuh ditangan pihak Inggris.

 

Keagungan Arti 10 November sebagai Hari Pahlawan

          Hari Pahlawan Nasional dapat merujuk pada sejumlah peringatan hari pahlawan nasional diberbagai negara. Hari Pahlawan sering diselenggarakan pada hari kelahiran pahlawan nasional maupun peringatan peristiwa yang mengantarkan mereka jadi pahlawan. Peristiwa besar  tersebut terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran tersebut adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

          Pada saat itu kita hanya mempunyai beberapa pucuk senjata api, selebihnya para pejuang menggunakan bambu runcing. Namun para pejuang kita tak pernah gentar untuk melawan penjajah. Kita masih ingat tokoh yang terkenal pada saat perjuangan itu yakni Bung Tomo yang mampu menyalakan semangat perjuangan rakyat lewat siaran-siarannya radionya. Pidato yang hanya 442 karakter mampu membakar 100.000 orang rakyat Indonesia untuk mengusir tentara sekutu yang berjumlah lebih dari 30.000 dengan peralatan perang yang canggih.

          Kebesaran arti pertempuran Surabaya, yang kemudian dikukuhkan sebagai Hari Pahlawan, bukanlah hanya karena begitu banyaknya pahlawan - baik yang dikenal maupun tidak dikenal yang telah mengorbankan diri demi Republik Indonesia. Bukan pula hanya karena lamanya pertempuran secara besar-besaran dan besarnya kekuatan lawan. Di samping itu semua, kebesaran arti pertempuran Surabaya juga terletak pada peran dan pengaruhnya, bagi jalannya revolusi waktu itu. Pertempuran Surabaya telah dapat menggerakkan rakyat banyak untuk ikut serta, baik secara aktif maupun pasif, dalam perjuangan melawan musuh bersama waktu itu, yaitu tentara Inggris yang melindungi (menyelundupkan) NICA ke wilayah Indonesia.

 

Arti pahlawan pada masa perjuangan melawan kolonial

         Secara bahasa kata Pahlawan berarti orang atau kelompok orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran (Kamus besar Bahasa Indonesia, 1988). Dari pengertian ini, ada tiga aspek kepahlawanan, yakni: keberanian, pengorbanan, dan membela kebenaran. Jadi, pahlawan memang selalu menuju individu atau kelompok orang yang melakukan ketiga aspek tindakan kepahlawanan tersebut.

         “Membela kebenaran” tentu saja suatu hal yang tidak mudah dirumuskan, dalam hal ini, kebenaran menurut versi siapa?. Di era perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari belenggu penjajahan, segala sikap dan tindakan menentang pemerintah kolonial dianggap sebagai bentuk kepahlawanan, siapapun yang melawan, memberontak terhadap kolonial  akan disebut pahlawan. Maka  munculah sederet nama yang dulunya dianggap pemimpin pemberontak oleh pemerintah Belanda, oleh pemerintah Republik Indonesia diberi gelar Pahlawan Nasional, seperti Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanudin, Cut Nyak Dien, Pattimura, Sultan Ageng Tirtayasa, dll.

 

Pahlawan era masa kini

          Masih adakah peluang untuk menjadi Pahlawan? Tentu saja peluang tersebut masih terbuka, bahkan jauh lebih luas. Namun tentu saja, bentuk perjuangannya jelas sangat berbeda. Jika di era pasca perang Dunia II kepahlawanan diwujudkan lewat perjuangan fisik melawan penjajah, maka di era kini kepahlawanan bisa dilakukan dengan membangun tatanan masyarakat yang lebih maju dan beradab,  hidup damai dalam pergaulan, baik antar pribadi, kelompok maupun antar bangsa.

          Dalam mengisi kemerdekaanpun kita dituntut untuk menjadi pahlawan. Menghadapi situasi seperti sekarang kita berharap muncul banyak pahlawan dalam segala bidang kehidupan. Bangsa ini sedang membutuhkan banyak pahlawan, pahlawan untuk mewujudkan cita-cita Bangsa Indonesia untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, serta Indonesia yang bersih dan bebas korupsi.

          Karekteristik seorang pahlawan adalah jujur, pemberani, dan rela berkorban demi kebaikan dan kesejahteraan orang banyak. Setiap orang harus berjuang untuk menjadi pahlawan. Karena itu, hari pahlawan tidak hanya pada 10 November, tetapi berlangsung setiap hari dalam hidup kita. Setiap hari kita berjuang paling tidak menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan keluarga. Artinya, kita menjadi warga yang baik dan meningkatkan prestasi dalam kehidupan masing-masing. Kita bertanya pada diri sendiri apakah kita rela mengorbankan diri untuk mengembangkan diri dalam bidang kita masing-masing dan mencetak prestasi dengan cara yang adil, pantas dan wajar?.

          Untuk seorang pelajar/mahasiswa, belajarlah dengan tekun dan penuh semangat untuk mempersiapkan diri agar nantinya dapat berperan lebih besar demi kemajuan bangsa dan siap  menerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Segala kiprah pelajar/mahasiswapada masa kini merupakan cerminan bagaimana masa depan suatu bangsa. Jika motivasi berprestasi pelajar/mahasiswa secara umum terpacu sehingga menelorkan berbagai prestasi akademik maupun nonakademik yang diraih, baik secara individu maupun kelompok adalah gambaran positif generasi mendatang, masa depan bangsa dan negara. Kebalikannya, jika  pelajar/mahasiswa secara umum cenderung berprilaku negatif pada diri sendiri, lingkungan sekitar, maupun lingkungan pergaulan, yang disertai sikap acuh terhadap masa depannya sendiri maupun masa depan bangsa dan negara, ini adalah gambaran negatif  begitu suramnya masa depan bangsa dan negara. Singkat kata, dipundak generasi muda kinilah masa depan suatu bangsa dan negara dipertaruhkan.Siapkan diri Anda menjadi calon Pahlawan Bangsa!

          Untuk para pendidik/dosen, mari kita siapkan calon generasi penerus bangsa ini secara penuh keikhlasan, ketekunan, dan kesabaran dengan memberikan bekal yang mantap dari sisi budi pekerti, kompetensi, ketangguhan, dan pribadi inovatif  sesuai dengan bidang kita masing-masing yang berlandaskan 4 pilar kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Agar rasa nasionalisme mereka tangguh, mental mereka selalu mengutamakan kepentingan umum (bangsa dan negara) di atas kepentingan individu dan golongan, dijauhkan dari mental korupsi, mental kekuasaan di atas segala-galanya sehingga bersikap “ngawur” dalam meraih/mempertahankan kekuasaan, dan sikap mental suka “merangkul” wanita-wanita cantik demi memuaskan hawa nafsu.  Kita perlu menyadari bahwa bagaimana masa depan sebuah bangsa dan negara dapat tercermin dari bagaimana kita selaku pendidik/dosen mempersiapkan mereka, bagaimana capaian-capaian pelajar/mahasiswa yang didapat pada masa kini. “Perjuangan” yang kita lakukan pada masa kini, “buahnya” bisa dipetik pada masa yang akan datang.  “Buah” yang kita petik akan terasa sehat, manis, bergizi dan menyenangkan, jika kita rajin memelihara, merawat, dan memupuknya dengan cara yang tepat dan benar. Sebaliknya, jangan terlalu berharap dapat memetik “buah”  yang enak dimakan jika kita “sembrono” dalam memperlakukan calon generasi penerus. Singkat kata, ditangan-tangan Anda-lah wahai para pendidik/dosen sebagian besar nasib bangsa dan negara dipertaruhkan. Jadikan diri Anda menjadi pemicu dan pemacu lahirnya pahlawan-pahlawan bangsa.

          Perlu diketahui bahwa pada dasarnya bangsa kita adalah bangsa yang besar  dengan berbagai sumber dayanya. “Pengelolaan” adalah kata kunci sejauhmana keberhasilan akan dicapai. Jika disetiap individu lahir sikap kepahlawanan yang kuat dibidangnya masing-masing  untuk siap mengelola segala potensi sumber daya yang ada disekitarnya demi kepentingan umum, bangsa, dan negara, maka tidak ayal lagi dalam waktu yang relatif singkat bangsa dan negara tercinta tingkat kemajuannya melebihi bangsa-bangsa lain yang telah maju lebih dahulu.

Akhirnya,marilah kita jadikan diri kita menjadi pahlawan sesuai dengan peran dan profesi kita masing-masing. Mari kita semua jadi Pahlawan! Kami siap jadi pahlawan!

         Semoga arwah semua para pahlawan yang telah mendahului kita menuju pangkuan-Nya diampuni semua dosa-dosanya dan mendapatkan pahala yang layak disisi-Nya. Dan, semoga mereka semua tersenyum lega karena generasi penerusnya juga siap meneruskan perjuangannya sampai titik darah penghabisan, sampai dunia berakhir. Amin.


Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini