PEMBANGUNAN MASJID DAARUSSALAAM SMK NEGERI 3 BOYOLANGU TULUNGAGUNG BAGIAN 2

Diposting pada: 2017-10-06, oleh : smkn3boy, Kategori: Tanpa Kategori

 

2.        Bahwa mengambil sedekah jariyah adalah merupakan kewajiban.

Sesuai dengan Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aalaayang tersirat dalam Surat At-Taubah ayat 103 yang artinya: ”Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan ber-do’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Untuk tujuan ini Islam mewajibkan manusia menunaikan zakat, mengan-jurkan dengan sangat agar manusia suka bersedekah, berqurban, berwakaf, ber-infaq, melakukan aqiqah. Semua amal dan perbuatan terpuji itu akan mendapat pahala dari Tuhan yang berlipat ganda. Firman Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa Surat Al-Baqarah ayat 265 yang artinya: “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keredhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (itupun memadai). Dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat.”

Salah satu bentuk suka bersedekah jariyah dan berinfaq dari Para Donatur adalah memberi dukungan moril serta materiil untuk pembangunan Masjid Darus-salam SMK Negeri 3 Boyolangu Tulungagung.

Allah berfirman dalam sebuah Hadist Qudsi yang artinya: “Sesungguhnya rumah-rumah-Ku di bumi adalah masjid-masjid dan pengunjungnya adalah orang-orang yang memakmurkannya” (HR. Abu Nu’aim dari Said al Khudlri).

Allah berfirman dalam Surat At-Taubah ayat18 yang artinya: “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Pada kehidupan di zaman modern ini kita harus mampu menjabarkan  memakmurkan masjid dalam arti yang luas, yaitu memakmurkan masjid dalam dua pengertian yakni hissi dan ma’nawi. Hissi berarti membangun masjid secara fisik, membersihkannya, melengkapi sarana prasarana dan yang lainnya. Sedang-kan memakmurkan masjid secara ma’nawi adalah meramaikan masjid dengan shalat jama’ah, membaca Al-Qur’an, dan i’tikaf serta ibadah-ibadah lainnya yang disyari’atkan. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. mengingatkan bahwa orang-orang yang terikat hatinya dengan masjid adalah termasuk golongan yang akan mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat.

Pembangunan masjid adalah termasuk salah satu investasi amal yang terus mengalirkan pahala bagi orang-orang yang membangunnya dan/atau yang ikut membantu dalam pembangunannya. Karena hal ini termasuk salah satu dari tiga amal yang dinyatakan oleh Rasulullah: “Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia maka putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Bagi mereka yang membangun masjid atau menyediakan dana untuk pem-bangunan masjid dalam kategori firman Allah Surat Al-Baqarah ayat 261 yang artinya: “Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan harta-bendanya di jalan Allah, bagai menanam sebutir benih yang tumbuh menjadi tujuh tangkai, setiap tangkai menghasilkan seratus butir. Begitulah Allah melipatgandakan ganjaran bagi orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha luas pemberian-Nya dan Maha Mengetahui.”

Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 272 yang artinya: “Bukanlah wewenangmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah yang berwe-nang memberikan petunjuk itu kepada yang dikehendaki-Nya. Apa saja dari harta yang baik yang kamu nafkahkan di jalan Allah maka pahalanya adalah untuk dirimu sendiri. Dan tidaklah kamu nafkahkan harta itu dengan tujuan lain, kecuali mencari keridhaan Allah semata-mata. Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah dari harta yang baik akan dicukupkan pahalanya kepadamu, sedang-kan kamu tidak akan dianiaya.”

 

3.        Untuk menyebarluaskan dan mempertahankan keutuhan ilmu agama Islam, perlu didirikan sarana dan prasarana yang memadai.

 

Dalam usaha menjadikan Islam sebagai ni’mat manusia, dan usaha menja-wab tantangan zaman, serta usaha membangun kembali ummat Islam menjadi lokomotif sejarah, perlu adanya usaha yang terus melakukan penggalian mutiara dan khazanah ajaran-ajaran fundamental Islam. Maksudnya diperlukan terus studi yang mendalam dan penafsiran kembali ajaran Islam dan masalahnya, sehingga benar-benar dapat diyakini dalam totalitasnya sebagai suatu aqidah, syari’ah, dan way of  life. Perlu diungkapkan tentang dasar-dasar pengertian Islam dan sejarah-nya, nilai-nilai fundamental dari ajaran-ajaran Islam, konsep-konsep dasar Islam tentang manusia, apa arti dan nilai iman dan ibadah bagi manusia, dan betapa pula bila Islam ditinjau dari segi hukum.

Dengan usaha menghidupkan terus api Islam dengan menggunakan infor-masi ilmu, maka setidak-tidaknya misunderstanding dapat dihilangkan pada sementara orang-orang yang sikap itu menjadi latar belakang munculnya kaum Islamophobi (takut pada Islam). Sikap misunderstanding terhadap Islam biasanya disebabkan adanya hal khusus yang ia tentang, pada hal apa yang ditentangnya itu samasekali bukan ajaran Islam, bahkan ditentang juga oleh Islam. Maka dengan informasi ilmu, Insya Allah manusia akan lebih cinta terhadap ajaran Islam. Seperti filosuf Inggris George Bernard Shaw berkata: “Saya selalu menaruh peng-hargaan yang setinggi-tingginya terhadap agama Muhammad, oleh karena vitalitet hidupnya yang mengagumkan.”

Pada uraian tentang inflasinya peradaban Barat historikus Arnold Toynbee, dengan penuh kejujuran berkata: “Sekarang pengharapan kita untuk menolong peradaban dunia hanya tinggal terhadap Islam yang memang masih sehat dan kuat, belum pernah melumuri kebenarannya dengan perbuatan-per-buatan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip yang dibawanya sebagai modalnya menolong seluruh dunia kemanusiaan.”

Salah satu tempat untuk mewujudkan uraian di atas adalah masjid. Rusu-lullah menjadikan masjid sebagai sentral ilmu pengetahuan. Dari masjidlah Rasulullah membina masyarakat baru Madinah. Ahlussuffah adalah mereka yang mengambil banyak manfaat dari ajaran Rasulullah. Disamping mereka tinggal di bagian belakang masjid, mereka juga sangat tekun menghafal hadist-hadist Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Abu Hurairah adalah salah seorang dari ratusan Ahlussuffah yang banyak meriwayatkan hadits dibandingkan sahabat lainnya. Tradisi menjadikan masjid sebagai pusat ilmu pengetahuan ini diteruskan oleh para Ulama Muslimin dalam mengembangkan Risalah Islam setelah wafatnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

 

MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dan tujuan dari pembangunan Masjid Darussalam SMK Negeri 3 Boyolangu Tulungagung:

  1. Meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan tentang ajaran aga-ma Islam, sehingga terwujud manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aalaaserta berakhlaq mulia dalam kehi-dupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
  2. Menciptakan rasa kebersamaan, toleransi untuk terciptanya ukhuwah islami-yah warga SMK Negeri 3 Boyolangu Tulungagung.
  3. Membuat warga SMK Negeri 3 Boyolangu Tulungagung lebih mencintai agamanya, meningkatkan keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aalaaserta kecintaannya kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
  4. Sebagai tempat pembinaan dan pendidikan akhlaq, mental dan spiritual peserta didik SMK Negeri 3 Boyolangu Tulungagung sesuai dengan ajaran Islam.
  5. Terciptanya suasana yang kondusif untuk beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aalaadengan adanya sarana dan prasarana yang memadai.


Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini